Tampilkan postingan dengan label aku. Tampilkan semua postingan
kalimat itu singkat tapi bisa saja bermakna lebih dari apa yang terlihat, seperti senyum yang bisa saja bermakna lebih dari apa yang terlihat. Kadang, bahasa seperti itulah yang justru lebih mudah ditangkap dan "ngena" di hati yang memberi, atau yang diberi. Tapi terkadang juga, terlalu singkat justru menimbulkan makna ambigu yang mungkin saja diartikan sebaliknya oleh orang yang kita beri sesuatu itu. Ternyata, untuk memberikan pesan berjuta makna dalam sebuah ekspresi super singkat seperti itu butuh yang namanya perasaan, perasaan untuk mengerti apa yang sebenarnya akan disampaikan dan apa yang sebenarnya akan diterima. Singkat kata, sebuah makna yang tersirat takkan terbaca sebagaimana mestinya jika orang yang kita beri sesuatu itu tak memiliki apa yang kita harapkan miliki. Contohnya sih simple, lihat saja percakapan kita dengan, mungkin sahabat atau orang-orang terdekat kita.
Pagi ini, akan kusampaikan ini, mungkin saja ngena, mungkin saja tidak,
"selamat pagi", semoga kau mengerti.
Pagi ini, akan kusampaikan ini, mungkin saja ngena, mungkin saja tidak,
"selamat pagi", semoga kau mengerti.
Lukman
Khakim
One day, I and my classmates in STIS had just
finished having lunch in a warteg near
the campus and walked a long the Otto Iskandar Dinata street toward our campus.
We saw a group of students in our way to campus. They were senior high school
students. We knew from the uniform they wear. We walked beside them and I saw
some of them carrying some weapon. I knew that they were going to do a student
brawls.
“53….53….” one of them screamed
Then, from the opposite direction I saw a Metromini
53 going toward us. I thought they screamed because the bus they
wait had come, but my perception is wrong. Suddenly, the bus stopped, a student
from different school got out from the bus bringing a sickle in his hand and
screamed some word that I didn’t know what the mean. Then, a group of student
got out from the bus follow him behind. I knew that the students from the bus
were the enemy of the students near us. A student brawls was happened in front
of us. We walked to the campus building fast to avoid the flying rocks from
them.
Before that time, I only see a student brawls in a
news program on TV. I myself almost don’t believe that the phenomenon is
actually happened because in my regency, student brawls is very seldom to
happen. I always curious to know why they do a student brawls, because I also a
student. Some people or some TV news reporter says the cause of student brawls.
Not only that, this phenomenon is also very often discussed in many forums. I
myself also have some argument about the cause of student brawls.
Some peoples say that students involved in the
student brawls are fool student. They also say the student are the student from
the bad and undisciplined school, the student from a broken family, the student
from the narcotic addict community, and the student from the poor family. I
don’t fully trust with that statement because from the news I have saw, the
school that are often involved to the student brawls is good school with good
reputation and good achievement. From the news also I know that the student
that involved in student brawls are not always come from poor and broken
family. They come from a rich family and harmonies family. From this, I can
conclude that some argument above is not fully proofed. Even, I believe that
the economic condition of their family is not influence with their student
brawls behaviour. Even though, in some condition the problem in family causes
their bad behaviour outside the house, like doing a student brawls. But, the
student brawls is done by a hundred or
thousand students, and it is impossible that all of their family is broken, and
also it is impossible that all of them are narcotic addict.
Criminal behaviour is learned. This means that criminal
behaviour is not inherited. Some professionals have learned this phenomenon and
conclude that the student brawls is link to psychological condition of the
students. The psychological condition is affected by the environment they most
attend. In this case, the environment is school. So, the school which is often
involved to the student brawls will always
be the school which always have student brawls case, because the student
is often interact with the student who is often involved in student brawls. The
student who study in school with the students who is often doing student brawls
will naturally learn what the student brawl are. Their mindset is built by
student brawls performer, so in their mindset student brawls is right to be
done. This is the mean that psychological condition affect their behaviour.
Student brawls performers have the higher solidarity
with their friend than the usual student. Because of high frequency of their
meeting, the solidarity is higher. In extreme condition, they prefer defend
their friend to follow the truth although their friend is wrong. This high
solidarity will easier to be seen when they have a problem with other group.
When one of their member is hit by other group, they will defend their friend
even if they have to fight with other group.
The other factor that cause the student brawls is
the lack of the law that set the student brawls problem. The student brawls
performer is only given some advice by the police if they are arrested when
doing student brawls. This condition build the mindset in other student that
doing student brawls is save from the police law. Because of this, the student
will think that the student who ever have problem with the police is cool, so
some student choose to follow their friend to do a student brawls.
The wrong perception in student brawls performer is
that the student brawls is a place to find their identity. They think the
student who have ever involved in student brawls will have a honour in their
community, and will be feared by other. This perception make some student
choose to follow their friend to do student brawls. They also think if they
don’t follow their friend they will be a loser in their school.
From some statements above, I can conclude that
actually student brawls is not caused by the condition in their home, but this
is caused by the interaction they do in their school. Student brawls is not
inherited but it is learned by the interaction with the student brawls
performer. So I suggest if you don’t want your child, your brother, and your
family involve in student brawls, don’t let them study in school that their
students are often involved in student brawls.
ceritanya, beberapa hari yang lalu Himada IKMKK ngadain plesir bareng ke pulau Untung Jawa di Kepulauan Seribu. Sebelumnya sih saya udah waah duluan mau pergi ke pulau lain, bayangannya itu mau ke kepulauan seribu yang diujung sana, bersama kapal menaklukkan ombak, diterjang badai menabrak karang, digulung ombak diterpa angin, dan akhirnya sampai di pulau disambut penduduk dengan adat mereka bak menyambut kesatria-kesatria penakluk lautan. Memang, itu ekspektasi yang terlalu tinggi karena pada akhirnya saya temukan kami menaiki kapal penyeberang dengan kecepatan tidak lebih dari citah berlari, #ya iyalah, oke, tidak lebih dari orang berlari, tak ada ombak menggulung-gulung, tak ada badai dan angin mengamuk-amuk, dan yang jelas, tak ada lautan di sepanjang mata memandang, karena kami masih bisa melihat pulau Jawa sebagai titik awal kami menyeberang, dan pulau Untung Jawa titk kami akan singgah. Ya, kami menyebrang ke pulau terdekat. Apapun itu, itu jalan-jalan yang memang waah, bukan karena kemewahan sarana dan prasarana, tapi karena kebersamaan yang membuat semua tampak mewah, dan mengesankan.
Singkat cerita, setelah sekitar setengah jam menyeberang, kami sampai di pulau. Lumayan bersih, indah, dan nyaman. Acara diawali dengan gathering di sebuah gedung yang sudah disewa oleh panitia, (salut untuk panitia). Berkumpul bersama teman-teman satu himada itu rasanya seperti acara kumpul keluarga saat lebaran. Himada memang satu-satunya keluarga yang menaungi kami di sini, teman-teman satu daerah, satu bahasa, berkumpul dalam satu wadah, IKMKK. Acara diisi dengan game, yang tentunya bisa membuat kami lebih saling mengenal. Di kampus, kami memang saling mengenal, saling tahu kalau sama-sama anggota himada, tapi untuk orang-orang tertentu di mata saya tidak lebih dari itu, hanya tahu kalau sama-sama satu himada, gak lebih. Dengan acara semacam ini, tentu diharapkan keakraban akan tercipta, terutaman buat saya agar lebih mengenal siapa keluarga-keluarga saya di jakarta, anggota himada.
Setelah Dhuhur, kegiatan kami lanjutkan dengan ber-banana boot ria, dan ber-snorkling di pantai pulau tersebut. Menjelang maghrib, kami balik menyebrang ke pulau Jawa. Acara kumpul himada semakin terasa menarik ketika jalanan berubah menjadi sangat macet saat kami pulang. Bersaman kopaja yang empuk, kami lalui bersama kemacetan itu. Tak kurang dari 5 jam perjalanan kami lalui, ngaret sekitar 3 jam dari waktu normal.
Capek, panas, kesel karena macet, lapar, tak terasa ketika kita merasa senang. Semoga kekeluargaan akan terus tercipta di IKMKK
Tepat di tanggal ini, 560 tahun yang lau seorang yang telah dijanjikan oleh Rosululloh SAW berhasil membebaskan dan menaklukkan kota dengan sistem pertahanan terbaik pada zamannya, Konstantinopel. Adalah Sultan Mehmed II bin Murad atau yang lebih dikenal dalam dunia islam sebagai Sultan Muhommad Al-Fatih sebagai penakluk kota tersebut. Beliau adalah sebaik-baik pemimpin, dan pasukannya adalah sebaik-baik pasukan, sesuai bisyarah yang telah dijanjikan Nabi Muhammad SAW kepada umatnya
Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel, sehebat-sehebat pemimpin adalah pemimpinnya, dan sekuat-kuatnya pasukan adalah pasukannya. (HR.Ahmad)
Banyak sekali keteladanan yang bisa dikaji dari sikap pemimpin yang satu ini, salah satu pemimpin terbaik kaum muslim yang telah bisa membawa Islam ke dalam kejayaan. Tentu kejayaan di sini bukan berarti kejayaan yang penuh ketamakan dan perebutan kekuasaan atau hanya sekedar arena ajang koruptor unjuk gigi seperti di Indonesia saat ini, tetapi kejayaan dalam langkah jihad fi sabilillah, menegakkan agama Allah dan hidup untuk Allah, bukan untuk dunia. Kejayaan kaum muslim waktu itu adalah di bawah kesultanan Ustmaniyah, sebuah sistem khilafah yang hebat. Muhammad Al Fatih adalah sultan ke 7 dari kesultanan tersebut. Dari sultan pertama kesultanan tersebut, cita-cita sudah terpatri dalam benak mereka, merealisasikan janji Rosululloh untuk menaklukkan kota Konstantinopel. Dari sultan pertama hingga Sultan Muhammad Al-Fatih, cita-cita tersebut terus diperjuangkan, hingga akhirnya dengan seizin Allah SWT, kota tersebut berhasil ditaklukkan, pada 29 Mei 1453.
Pencapaian luar biasa tersebut bukan karena mereka memiliki armada perang yang paling canggih, bukan pula karena mereka mempunyai jumlah yang sangat besar, tetapi karena keimanan mereka dan keyakinan mereka akan Islam yang mereka peluk, jadi tak terbesit sekilaspun pada pikiran tentara-tentara terbaik sepanjang masa tersebut rasa takut mati di dalam perang, malahan justeru mereka merindukan kematian di medan perang, mati syahid memperjuangkan Islam di jalam Allah. Dan Mehmed Al-Fatih sendiri adalah sesosok pemimpin yang luar biasa, seorang yang taat beragama dan menjalankan pemerintahan sesuai syariat Islam, bahak beliau adalah orang yang tak pernah meninggalkan sholat rowatib dan tahajudnya sejak beliau remaja. Pendidikan pemerintahan dan kepemimpinan sudah ditanamkan kepada beliau sejak kecil, bahkan pada usia 6 tahun beliau suda dipasrahi jabatan sebagai gubernur Erdine. Sungguh pencapaian yang luar biasa.
Bukan semangat menghunuskan pedang ke musuh-musuh yang harus kita contoh sekarang, tetapi keimanan mereka dan ketaatan mereka pada agama yang mereka, kita yakini bersama-sama. Bukankah kita mengharapkan surga yang sama seperti yang mereka harapkan? Lantas, apa alasan kita untuk tidak beriman seperti yang mereka lakukan?
Entah apa yang saya perbuat, sekarang sariawan bersarang di bibir saya. Sariawan itu perih, gak enak buat makan, gak enak buat ngomong, dan gak enak buat ngerjain soal kalkulus, oke kalau yang soal kalkulus itu emang selalu gak enak, hehehe. Bukan tanpa usaha saya menangani sariawan ini, sudah datang ke berbagai rumah sakit walaupun cuma lewat depannya doang, sudah datang ke klinik dikampus yaa walaupun cuma lewat pas mau kuliah, udah datang ke temen saya yang katanya orang pinter, eh ternyata dia emang bener-bener orang pinter, maksudnya pinter ngerjain soal kalkulus., dari kesemua usaha saya di atas, belum juga terlihat hasilnya, akhirnya saya memutuskan untuk membeli obat saja, semoga Allah meridhoinya dan sariawan ini lekas diberikan kesembuhan. Aaamiiin
Ngomong-ngomong soal sariawan, saya selalu jadi keinget jaman-jaman lulus SMA dan lagi berusaha belajar sekuat tenaga buat nyari kuliahan. Maksudnya adalah dulu pas masa-masa itu saya sedang sariawan juga, semua dilakukan bersama sariawan yang selalu setia menemaniku waktu itu. Belajar ditemani sariawan, baca buku ditemani sariawan, ngerjain soal SNMPTN ditemani sariawan, ngerjain tes STIS juga sama sariawan, bahkan saat saya sariawan pun ditemani oleh sariawan. Emang setia banget.
Dengan pengalaman yang begituan, saya jadi teringat dulu waktu masih berjuang memperjuangkan STIS setiap kali sariawan, seperti saat ini. Dulu, bersama teman-teman, kami semangat banget buat belajar, ngerjain soal-soal USM, 1001, 1700, dan buku-buku sejenisnya. Mungkin kalau boleh diperjelas itu sebenernya bukan semangat banget tapi dipaksa buat mau gak mau harus semangat banget, masalahnya ini menyangkut harga diri cooy, ini berurusan sama image kita dipandang oleh orang tua kita. Terpaksa kami harus belajar ekstra siang malam, dilakukan terus dan terus, terus dan terus, hingga pada saatnya itu berubah menjadi bukan sebuah keterpaksaan lagi tapi sebagai kebutuhan, ketika waktu semakin melimit, ketika tanggal SNMPTN semakin mendekat, ketika tanggal tes tahap 1 kian berada di depan mata, tanpa disadari belajar dan berjuang dengan berkorban sudah menjadi kebutuhan, kebuthan untuk memperjuangkan harga diri, berjuang buat kedua orang tua yang selalu mensupport lewat doa. Kami sadar jika peluang kami buat dapet yang kami inginkan itu bukanlah 1, atau mutlaq. Peluang kami bisa diterima di sebuah kuliahan yang kami inginkan itu sama sekali tidak kami ketahui, bisa saja mendekati satu atau bahkan sedikit sekali sampai limit mendekati nol. Apapun itu berapapun itu kami tidak perduli, yang hanya bisa kami lakukan adalah berusaha. Bukanya berapapun peluang itu, itu selalu berhubungan dengan usaha kita? Kami yakin yang usahanya lebih berarti peluangnya lebih, begitu juga sebaliknya. Dari yang awalnya terpaksa harus belajar, seiring waktu berlalu mulai timbul tanggung jawab dalam diri kami untuk memperjuangkannya dengan baik, toh hasil sesungguhnya itu buat kami, bukan buat orang tua atau orang lain.
Mimpi kita tidak besar, tidak istimewa, mungkin bisa dipandang kecil bagi sebagian orang. Tapi apa perduli kami terhadap hal tersebut, toh hasil sendiri akan dinikmati diri sendiri. Mimpi saya mungkin hanya untuk kuliah, dimanapun itu yang penting sesuai dengan yang orang tua saya doakan. Saya inget, orang tua saya tidak mendoakan saya untuk dapat diterima di sebuah kuliahan tertentu, tidak juga menuntut saya untuk kuliah di tempat tertentu. Hanya saja, mereka menginginkan saya mendapatkan yang terbaik bagi saya, dan itu memang benar-benar saya inginkan, mendapatkan sesuatu yang terbaik bagi saya, ternyaman, dan tersesuai dengan keadaan.
Tanpa terasa, waktu itu sudah berlalu, sudah berlalu 1 tahun yang lalu. Sekarang, tinggal kesempatan buat adik-adik kelas memperjuangkan mimpinya. Dan tepat hari ini, pengumuman SNMPTN adik-adik dilaksanakan. Dimanapun tujuan mereka saya doakan yang mereka dapatkan itu yang terbaik bagi mereka. Dimanapun tujuan mereka, saya yakin asal diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, hasilnya tidak mengecewakan. Berjuang memang susah, apalagi untuk sebuah hal yang belum bisa ditentukan kepastiannya, tapi itu hal wajib yang mutlaq harus dilakukan seseorang untuk mencapai tujuan. Kita hidup di dunia nyata, bukan di dunia dongeng.
Sariawan itu emang perih, gak enak buat makan, gak enak buat ngomong, gak enak buat beraktifitas, sakit dan tidak mengenakan, tapi setelah nantinya hal itu sembuh, kamu bisa merasakan kelegaan hidup tanpa sariawan, bisa makan enak, ngomong tanpa terganggu, dan bisa tersenyum lebar tanpa ada rasa mengganjal. Begitu juga dengan belajar memperjuangkan kuliahan, hal itu pada awalnya gak enak, gak enak harus tidur hanya sebentar, gak enak harus selalu mikir tanpa istirahat, gak enak dengan rasa was-was apakah akan diterima atau tidak. Tapi nantinya setelah kita bisa lolos, kita akan merasakan kelegaan hidup tanpa rasa was-was tersebut. Sama seperti pasca sariawan, kita bisa tersenyum lebar tanpa ada rasa mengganjal. Kita tidak tahu apakah hasilnya nanti, yang harus kita tahu adalah usaha, usaha, dan usaha.
Kemarin sore itu waktunya buat bertatap muka sama dosen english di kelas, di ruang entah berapa saya lupa, yang jelas bukan di gedung 1 lantai dua deket lift, karena saya masih inget banget kalau itu ruangan bu Iin. Udah beberapa kali saya masuk ruangan bu Iin, dan pada saat itu, di depan pintu beliau, untuk urusan apapun ketemu sama beliau, saya gak pernah lupa buat baca doa, semoga semua akan baik-baik saja dan indah pada waktunya. Emang agak sedikit gak nyambung sih doanya, tapi itulah yang saya pikirkan, mungkin terlalu lelah atau terlalu was-was otak saya buat berpikir waktu itu. Oke, ini bukan cerita tentang kharisma bu Iin, bukan juga bercerita tentang pintu ruangan bu Iin, melainkan tentang sesi 3 jumat sore kemarin. Karena salah satu teman saya sudah ngechat dosennya, mr C7, jadi beliau tidak lupa lagi kalau kelas saya ada sesi kuliah sama dia. Sebenernya saya sebagai PJ yang bertanggung jawab dan kharismatik sudah diminta tolong buat smsin bapaknya suruh dateng sesi kuliah, eh si Yesa udah nanya duluan sama mr.c7. Ngomong-ngomong soal PJ yang kharismatik, saking berwibawanya saya menjadi PJ beberapa waktu lalu bapaknya ngga dateng dan nggak mbatalin jadwal di sipadu, saya gak sms beliau sebelumnya tapi sms waktu sesaat sebelum kuliah dan dibalas bapaknya dengan telepon
saya : hallo gimana pak bisa dteng ngga, ini kami udah ada di ruang 32sekian
c7 : hallo, saya sudah mbatalin jadwal tadi nelpon sama made tapi ga diangkat angkat
,saya : oh gitu ya, yaudah makasih pak
tuh kan saking baiknya performa saya sebagai PJ, sampai-sampai dosennya mbatalin jadwal dengan bukan nelpon saya tapi, made.-_-
lupakan masalah keperPJan, kembali ke jumat sore kemarin,
Bapaknya datang tepat waktu, hanya telat berapa puluh menit saja, itu gak masalah. Hari itu kami diajar tentang statement dalam menyusun sebuah narasi. Kami diajarkan tentan contoh membuat narasi secara scientis, sebagai contoh beliau mencontohkan tentang statement "wanita baik hati", kemudian pada paragraf berikutnya dijelaskan tentang kenapa gadis itu baik hati, blablabla. Waktu itu kami diminta memberi contoh sebuah statement kalimat yang sekiranya bisa dijelaskan rinciannya, sebagai contoh kami diminta untuk menyebutkan siapa tokoh idola kami. Pertanyaan dimulai ditujukkan kepada si pojok, Viky. Viky menjawab presiden SBY sebagai idolanya, alasannya cukup simpel, beliau seorang presiden dan berhasil mengangkat derajat ekonomi Indonesia dengan kebijakan-kebijakannya. Lanjut ke peserta berikutnya si rahmat, dia bingung tentang siapa idolanya, katanya ga ada ide di pikiran. Saya curiga dia juga bingung siapa nama dosennya kali ini. Lanjut ke Restu si galau-galau bahagia, dia menjawab Agnes blablabla, novelist surat kecil untuk Tuhan. Dan lanjut ke peserta berikutnya yaitu, saya. Saya sendiri menjawab B.J Habibie sebagai idola. Nggak neko-neko sih alasan saya, beliau seorang presiden Indonesia yang ketiga menggantikan pak Soeharto yang kolaps dalam poklitik saat itu. Pak Habibie cerdas luar biasa, dan semangatnya juga luar biasa hebat, beliau selalu berusaha meyakinkan bangsa Indonesia bahwa Indonesia itu bangsa besar penuh potensial, hasilnya Indonesia berhasil membuat sebuah pesawat tercanggih pada masanya. N250 bukti nyatanya. Mugkin jika saya ceritakan tentang kelebihan-kelibihan beliau gak akan cukup waktunya, yaa waktu saya terbatas, banyak aktifitas-aktifitas penting menanti, nyuci misalnya. n
Setiap mahasiswa menjawab siapa idolanya dan alasan mengapa orang tersebut jadi idola. ada beberapa mahasiswa yang menarik untuk diceritakan.
Mas Hendrat, satu-satunya mahasiswa yang lebih tua dari dosennya, menjawab Ahmad Dhani sebagai idolanya. Alasan Mas Hen dia suka pola pikir Dhani yang terjang, kontroversi, dan tegas. Sebagai contoh Dhani sigap menyikapi masalah rumah tangganya dengan bercerai dan sekarang konon sudah kawin lagi. Pertanyaan saya gak jauh-jauh, kenapa Mas Hen mengidolakan seorang Dhani dari sudut pandang bahwa dia sudah berhasil cerai dan kawin lagi, bukan dari segi musikalitasnya, hahaha, dasar ABG tuek.
Ayub, mahasiswa yang mirip sama Himawari menjawab Nabi Muhammad sebagai idolanya. Pak Situjuh menyambut bagus jawaban Ayub meskipun beliau bukan seorang muslim. You choose the highest one Ayub, good.
Aditya Nugroho, mahasiwa asal warteg ini menjawab Taufik Hidayat sebagai idolanya, selain karena Adit suka bermain badminton, juga karena katanya Taufik beranggapan bahwa badminton bukan hanya sekedar olahraga, tetapi seni. wow, deep mom deep
Made, mahasiswa bali asal jakarta ini, penggemar kadek, menjawab orang tuanya sebagai idolanya. Notabene mahasiswa disini adalah rantauan, otomatis jauh dari orang tua, spontan kami semua jadi keinget ortu kita masing-masing. Theo lansung mengambil tisu, yaa, dia lagi pilek.
Ada beberapa teman-teman menjawab ibu mereka sebagai idolanya, salah satunya adalah Dyah, mahasiswa Purworejo asal Bandung. Dengan suaranya yang khas dia menceritakan kenapa ibunya diklaim sebagai orang paling diidolakannya di dunia ini, dari mulai ibunya yang tidak pernah lelah merawat dia hingga besar, terus...teruss...udah itu doang yang saya inget, atau mungkin selebihnya saya tidak tau artinya. Suasana berubah menjadi sunyi, terlebih ac dimatikan karena terlamau dingin, sontak tidak ada suara berdesis lagi di atas kepala kita, tersisa suara Dyah menjelaskan dalam bahasa inggris. Suasana berubah jadi haru dengan masing-masing mengingat ibunya sendiri. Saya tidak banyak tau tentang apa yang dikatakannya, tapi paling tidak saya kebawa suasana.
Di antara yang unik dari yang unik untuk diceritakan, ada satu mahasiswa unik dengan jawaban tidak kalah uniknya, asal daerahnya juga unik, unik karena baru ketika di kuliahan saya tahu kalau di Idonesia itu ada nama daerahnya, Banggai kepulauan. (Banggai, bukan bankai). Adalah Fajrianto Manungki, mahasiswa optimistis penuh tanda tanya sebagai the mother of unik. Ketika yang lain menjawab dengan Tere Liye, SBY, Taufik Hidayat, Nabi Muhammada, Steve Jobs, dll, dia menjawab Fatma Yuliana sebagai idolanya. Bukan apa-apa sih, Fatma emang pantas diidolakan, tapi yaa gimana gitu, yg lain njawab penulis-penulis terkenal, presiden, dia njawab temen sendiri sebagai idolanya, udah gitu yang bersangkutan, Fatma, ada di kelas kami juga. Spontan kelas berubah menjadi ramai, seramai hatiku saat kau pergi meninggalkanku,#halah. Kelas ternganga-nganga mendengar jawaban tak terduga Fajri. Dosen kami menjawab, "You are a man!!". Saya salut juga dengan keberanian Fajri. Luar biasa.
Setiap jawaban dari mahasiswa menggambarkan diri si penjawab, Adit suka bulu tangkis, dia menjawab Taufik Hidayat. Theo, si pecinta alam menjawab seorang atlit panjat tebing. Dyah, cewek keibuan menjawab ibunya sebagai idolanya. Restu, tukang galau menjawab seorang novelist cerita sedih. Mas Hen, satu-satunya orang yang udah menikah menjawab Ahmad Dhani, sebagai idolanya. Sharse, cewek yang kaya cowok, menjawab Gigs sebagai idolanya. dan jawaban-jawaban lain yang rata-rata mewakili kepribadianya atau sekedar hobi. Kebanyakan orang mengidolakan seseorang karena kebaikan yang telah dilakukan idola tersebut, atau sekedar hobi yang sama dengan sang idola. Entah apa yang ada di pikiran Fajrianto, mungkin karena hobinya yang sama dengan hobi Fatma, belajar. wow
Siapapun idola itu, entah itu orang yang luar biasa yang telah berhasil memberikan pengaruh kepada peradaban manusia, ataukah itu seorang sederhana dengan perjuangan luar biasa dan dedikasinya pada apa yang ia kerjakan, ataukah itu teman sekelas kita sendiri yang sikapnya jelas terlihat sehari-hari, ataukah siapakah itu, semuanya punya kesamaan yang membuat mereka menjadi seorang idola. Kesamaan itu adalah mereka punya kelebihan dibandingkan orang di sekitarnya, punya sesuatu yang mengistimewakannya yang membuat dia menjadi kaum minoritas yang diidolakan banyak orang. Yang perlu digarisbawahi adalah kelebihan atau prestasi mereka adalah bukan sebuah hadiah dari langit yang tiba-tiba menjadikan dia istimewa, kelebihan itu berasal dari dedikasi dan keistiqomahan orang tersebut dalam berjuang memperjuangkan kebaikan, memperjuangkan mimpinya hingga melahirkan sebuah masterpiece, semua itu butuh usaha. Kebanyakan seorang idola tidak dilahirkan sejak kecil menjadi idola, artinya adalah semua orang punya kesempatan untuk mejadi idola, jika tidak diidolakan orang lain, paling tidak diidolakan diri sendiri dengan bangga menjadi orang baik. Pertanyaanya adalah bukan masalah mampu atau tidak seorang untuk menjadi idola, tapi mau atau tidak. Sekali lagi, Hidup adalah pilihan.
Bukan tidak mungkin sebuah keistimewaan datang kepada seseorang, Fatma telah membuktikan bahwa sesuatu itu bisa diperjuangkan, dengan sifat rajinnya, sifat baiknya dengan orang lain, kepinterannya, dia berhasil membuat Fajrianto mengidolakannya. Walaupun kebanyakan dari kami menertawakan jawaban Fajri, tapi saya yakin di hati mereka, mereka setuju dengan Fajri. Dan satu hal yang saya yakin juga, ada rasa iri di dalam hati kami dengan apa yang Fatma lakukan, cukup membuktikan bahwa sebenrbernya kita ada kemauan buat berusaha jadi yang terbaik.
Keep trying to be a winner!
Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Baqi Gharqad (sebuah tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tonkatnya itu kemudian beliau bersabda:
"Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Allah tuliskan kedudukannya di dalam surga ataukah di dalam neraka serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia."
Lalu, seseorang lelaki tiba-tiba bertanya " Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir dan meninggalkan amal ibadah?"
Rasulullah sawa bersabda " Barang siapa yang telah ditentukan sebagai seorang yang bahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang yang sengsara". Kemudian beliau melanjutkan sabdanya " Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang yann berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang yann sengsara, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang sengsara". Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini
Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertaqwa, dan membebarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kamikelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup,. serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar (QS Al lail [92] : 5-10)
(Shahih Muslim No.4786)
Sering kita mendengar ketika seseorang dinasehati orang lain untuk berbuat baik, orang tersebut akan menjawab "Ah saya belum siap, mungkin belum dapat hidayah". Atau seseorang yang sudah berbuat jahat bilang " semua sudah diatur oleh Allah, jadi jika saya jadi maling maka itu sudah diatur sama Allah".
Orang-orang justeru menunggu mendapat hidayah dari Allah untuk melakukan perbaikan ke arah yang benar. Orang-orang justeru dengan sangat mudah mengkambinghitamkan Allah ketika melakukan kejahatan, semudah itukah? Orang-orang justeru tidak mau berubah dan nyaman dengan kejahatannya walaupun sebenarnya di dalam hatinya berharap akan ada hidayah datang mengubah hidupnya. Apakah benar yang mereka lakukan? Tentu tidak, dalam hadist di atas dijelaskan bahwa orang-orang sebenarnya sudah digariskan taqdirnya untuk menjadi orang baik otau orang jahat, tetapi bukan berarti kita lepas diri dan hanya pasrah kepada keadaan toh sudah ada hasilnya. Orang-orang baik perilakunya akan mengarah kepada amalan-amalan selayaknya orang baik, begitu juga sebaliknya orang jahat akan berbuat sebagaimana mestinya orang jahat. Karena kita tidak tahu dan tidak akan pernah tahu apa yang telah Allah gariskan untuk kita, maka apa salahnya jika kita berbuat baik selayaknya orang-orang baik dan berbahagia lakukan, dengan begitu kita akan mengarah menjadi orang-orang yang baik dan berbahagia dunia dan akhirat. Tentu kita berharap menjadi orang-orang yang Allah gariskan untuk tinggal di surganya. Dan sekarang yang bisa kita lakukan adalah usaha.
Hidup adalah pilihan. Bahagia, sedih, sukses, kaya, miskin, dihargai banyak orang, dipandang hina orang lain, dan fenomena-fenomena yang terjadi pada diri seseorang adalah pilihan. Bahkan, mendustakan agama dengan menjauhi perintahnya tanpa telat sedikitpun mengerjakan larangannya juga merupakan pilihan, jadi seperti apa dirimu sekarang adalah apa yang entah sadar atau tidak sadar dirimu pilih pada waktu yang lalu. Mau nyesel karena hidupmu sekarang kayak gini? ehhm.. sorry sorry aje, anak kecil juga tahu kalo nyesel dan meratapi nasib itu gak akan merubah keadaan. terus apa yang harus kita lakuin sekarang? yaa, nyesel..#lho. Nggak, nggak, yaa untuk memperbaiki diri buat ke depannya ya cuma memilih, memilih apa yang akan kamu lakukan saat ini untuk membentuk kamu di saat yang akan datang, apakah mau jadi maling, yaa tinggal rajin2 nyolong aja dari sekarang, apakah mau jadi seseorang yang berilmu agama, yaa rajin2 aja ngaji dari sekarang, datengin pengajian-pengajian yang bermanfaat, benar, dan sesuai hatimu, apakah mau jadi Lutfi Hasan? yaa jangan ngimpiiii..haaa. Intinya apa-apa yang akan kita lakukan sekarang itulah gambaran kita pada masa yang akan datang. Seorang ustad berilmu tinggi gak akan berasal dari preman tukang palak yang nggak kenal sama yang namanya masjid dan ujug-ujug dapet ilmu dari langit dan hari itu juga jadi dai kondang. Begitupun juga seorang koruptor profesional, high class, dan berjaringan luas sehingga korupsi segudangpun aman-aman saja, gak akan berasal dari seorang ahli ibadah penghafal Al-Quran yang gak kenal sama yang namanya dusta, sehari-hari hanya ngurusin mesjid dan ujug-ujug hari itu menjadi anggota DPR tingkat atas dan langsung korupsi uang besar-besaran. Selalu ada proses untuk menuju titik tertentu, selalu ada langkah-langkah yang sistematis untuk menjadikan seseorang memiliki kedudukan tertentu. Dan ajaibnya, langkah-langkah tersebut, proses-proses tersebut adalah pilihan. sekali lagi, hidup adalah pilihan.
Hidup adalah pilihan, maka segala yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan akan terjadi adalah hasil daripada pilihan kita. Hidup ini hanya sebentar, hanya sekali. Hidup seperti apa yang akan kita pilih?
Seorang pengamen kerjanya main gitar, sambil nyanyi-nyanyi di perempatan jalan atau dalam bus kota. Tidak jarang mereka juga berkarya dengan karya yang gak kalah sama karya-karya musisi terkenal. Karena mereka pengamen, mereka hanya mendapatkan uang hasil keringat sekitar batas yang didapatkan pengamen saja. Itu bukan selalu karena mereka tidak bagus dalam bermusik, bukan selalu karena karya mereka yang jelek, tetapi karena mereka pengamen jalanan. Dan itu adalah pilihan.
Seseorang musisi terkenal, kerjany main gitar, sambil nyanyi-nyani di panggung-panggung megah atau di TV-TV swasta Indonesia, tidak jarang juga di dapur-dapur rekaman. Mereka berkarya atau hanya memainkan karya orang lain, dan karya-karya mereka juga bagus. Karena mereka musisi high class, mereka mendapatkan uang hasil keringat mereka luar biasa banyaknya. Jelas, itu melebihi hasil yang didapatkan pengamen. Itu bukan selalu karena suara mereka bagus, bukan selalu karena karya mereka yang luar biasa, tetapi karena mereka musisi terkenal. Dan itu adalah pilihan.
Dua orang yang sama-sama berkarya dengan gitar mereka mengalami ketimpangan sosial yang begitu terlihat. Itu karena hidup itu pilihan.
Karena hidup itu pilihan, maka akan selalu tersedia paling tidak dua pilihan yang bisa kita pilih, dan sebagai akibat dari aksi kita yang memilih salah satu dari pilihan tersebut, maka akan ada satu pilihan yang harus dikorbankan untuk tidak dipilih dan tidak terjadi pada waktu itu. Seorang yang memilih untuk mengerjakan sholat berjamaah di masjid ketka sedang menonton sinetron, akan kehilangan kesempatan buat nonton sinetron pada waktu itu, gak mungkin kan sholat di masjid sambil nonton sinetron. Seseorang yang memilih untuk menikah dengan seseorang yang dirasa sudah pas dihatinya tentu akan kehilangan kesempatan untuk menikahi orang lain pada waktu itu. Seseorang yang lebih memilih untuk berjuang di jalan Allah untuk berusha mendapatkan ridhanya akan kehilangan kesempatan untuk mencicipi api neraka.
Berkata Allah Azza wa Jalla: "Aku tidak akan menghimpun dua rasa takut dan dua rasa aman pada diri seorang hamba. Jika ia takut pada-Ku di dunia, maka Aku akan memberikannya rasa aman di hari kiamat. Jika ia merasa aman dari-Ku di dunia maka Aku akan memberikan rasa takut kepadanya di hari kiamat' (HR. Ibnu Hibban)
Apa yang akan kamu pilih, Biasa atau Istimewa?
Orang-orang yang biasa itu lebih banyak jumlahnya daripada orang-orang yang istimewa. Seorang pemimpin jumlahnya hanya satu dibandingkan dengan jutaan rakyat yang dipimpinnya. Dalam sebuah pertandingan sepak bola dalam suatu kompetisi yang bergengsi selalu ada lebih banyak jumlah penonton daripada yang ditonton. Seorang yang istimewa mempunyai sesuatu yang lebih daripada orang-orang yang biasa. Lalu siapakah kita? Bisa kita renungkan sendiri untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Lalu apa yang membedakannya?
Yang membedakan adalah pilihan yang dipilih dalam berusaha dan memperjuangkan apa yang diinginkan. Seorang yang istimewa selalu punya usaha yang lebih dari pada orang yang biasa. Butuh suatu aksi yang tidak dilakukan orang biasa untuk menjadikan seseorang istimewa. Orang-orang yang berjamaah sholat Subuh di masjid lebih sedikit dari pada jumlah warga sekitar masjid keseluruhan. Itulah sala satu contoh usaha yang tidak dilakukan oleh orang biasa.
orang luar biasa selalu minoritas, tetapi yang minoritas belum tentu orang luar biasa.
Overall, dapat disimpulkan bahwa hidup itu adalah pilihan, pilihan untuk membentuk kita pada masa yang akan datang. Kita yang sekarang ini adalah hasil dari pilihan kita di masa lampau dalam memilih langkah-langkah yang diambil.
Lalu, hidup seperti apa yang akan kamu pilih?
sekumpulan anak yang dengan biadabnya berhasil mereaksikan rendaman cucian dengan air seni salah satu dari mereka. Dan mereka sangat bahagia, walaupun berahir dengan air mata. Mungkin karena saking bahagianya. orang tua pelakupun turut hadir ke TKP dan sempat menanyakan "ini cucian bersih apa kotor ya om, sini biar ibu cuciin ga papa?" dengan jiwa kesatria dan penuh tanggung jawab pun saya menjawab "oh itu cucian kotor kok, gak papa bu." sebenarnya secara implisit dalam kalimat terakhir tersebut tersirat harapan ibu pelaku akan menjawab " ga papa dek, sini biar saya cuciin aja gak papa, uang bulanannya masih?kalau kurang bilang sama ibu aja gak usah sungkan(emoticon senyum paling manis)" tetapi manusia hanya bisa berkehendak, dengan tanpa rasa belas kasihan ibu itu menjawab "oh untung aja cucian kotor, kan sayang kalau cucian bersih" udah. iya, udah gitu doang gak lebih. gambar tersebut diambil beberapa saat sebellum proses pengencingan rendaman cucian berlangsung. Paling kanan, bocah berbaju kuning(sebut saja Apiz,-ya, emang itu nama aslinya) terlihat sedang menari samba dengan salahnya. sementara itu bocah botak berbaju biru(Fauzan-bukan nama samaran) sedang berusaha menuju puncak tertinggi dengan sedikit bertingkah kasar pada Inu(bocah cerdas si owe* keluar-keluar). Sedikit prestasi dari Fauzan, sudah beberapa kali berhasil dengan biadabnya mencabut charger laptop yang sedang tanpa baterai, sementara Inu prestasinya sudah tidak diragukan lagi dari makan apel kami sampe menjilat-jilat kaca jendela. back to main topic. terpaksa dengan tidak menghilangkan sikap profesional integritas amanah, cucian yang telah tercampur tersebut saya tangani sendiri (tangani : ya ditangani, bener-bener pake tangan bukan pake kaki apalagi kuping*lho?). Dan untuk sahabat saya Cahyo Wibowo dan Cesc Dwi jangan berbahagia dulu kalian, karena diduga kuat cucian kalian juga ikut terkontaminasi. Dari kejadian ini saya dapat beberapa pesan moral yang sangat berharga antara lain:
#pendidikan karakter usia dini sangat perlu ditekankan kepada anak-anak tidak hanya secara teori dan rumus-rumus, tetapi juga secara praktik dan aplikasi nyata pada masyarakat. Dengan metode ini diharapkan kecerdasan motorik anak akan terangsang berkembang sehingga mereka diharapkan bisa dengan cerdas membedakan mana WC dan mana ember cucian.
#sebenarnya hal semacam ini, rumah kontrakan dikunjungi anak-anak dan sedikit diganggu, sudah sering terjadi. Sekian lama kami(kita dan anak-anak tetangga) bersama, semakin nampak keakraban di antara kami sebagai wartawan dan narasumber, karena pekerjaan mereka adalah menanyakan hal-hal tidak penting yang ada di sekitar kita. seperti "om, ini penggaris om ya?om ini buku om ya..dll", saya berfikir kenapa mereka begitu kritisnya menanyakan hal-hal seperti itu, apakah mereka sebenarnya mata-mata musuh yang sengaja dikirim untuk mengawasi kami?kita tidak pernah tahu. Dari kebersamaan kami selama ini, saya mendapat pelajaran dan mengerti dengan sungguh-sungguh apa yang sebenarnya squidward selama ini rasakan ketika diganggu sposbob dan patrick star.
#hidup adalah perjuangan, I'm genius I'm sirius
#pendidikan karakter usia dini sangat perlu ditekankan kepada anak-anak tidak hanya secara teori dan rumus-rumus, tetapi juga secara praktik dan aplikasi nyata pada masyarakat. Dengan metode ini diharapkan kecerdasan motorik anak akan terangsang berkembang sehingga mereka diharapkan bisa dengan cerdas membedakan mana WC dan mana ember cucian.
#sebenarnya hal semacam ini, rumah kontrakan dikunjungi anak-anak dan sedikit diganggu, sudah sering terjadi. Sekian lama kami(kita dan anak-anak tetangga) bersama, semakin nampak keakraban di antara kami sebagai wartawan dan narasumber, karena pekerjaan mereka adalah menanyakan hal-hal tidak penting yang ada di sekitar kita. seperti "om, ini penggaris om ya?om ini buku om ya..dll", saya berfikir kenapa mereka begitu kritisnya menanyakan hal-hal seperti itu, apakah mereka sebenarnya mata-mata musuh yang sengaja dikirim untuk mengawasi kami?kita tidak pernah tahu. Dari kebersamaan kami selama ini, saya mendapat pelajaran dan mengerti dengan sungguh-sungguh apa yang sebenarnya squidward selama ini rasakan ketika diganggu sposbob dan patrick star.
#hidup adalah perjuangan, I'm genius I'm sirius
Tidakkah kau berpikir kalau waktu sekarang berjalan lebih
cepat? Sepererti jarum jam saling berlomba berputar terus dan terus, berlomba
dengan sesama jarum penunjuk waktu, berusaha mencapai garis finish terlebih dulu. Dan
kau tau bahwa jam itu berwujud lingkaran, tetapi mungkin mereka tidak tau kalau
jam itu berwujud lingkaran. Dengan penuh semangat, jarum jarum tersebut memacu
tenaga maksimalnya untuk sesegera mungkin menyelesaikan tugasnya. Tanpa tau
kalau sebenarnya tidak ada garis finish seperti yang mereka pikirkan. Dengan optimisme
yang tinggi mereka melalui angka demi angka, dari 1, 2, 3,... sampai 12, dan
diulangi lagi dari 1, 2, 3,... sampai 12, begitu seterusnya. Mereka pikir
setelah menyelesaikan beberapa putaran tertentu yang telah digariskan oleh Yang
Maha Mengatur, mereka kemudian bisa beristirahat menikmati hari tua mereka
dengan dana-dana pensiunan yang lebih dari cukup untuk sekedar menikmati
hari-hari tua hingga ajal kemudian menghentikannya.
Itu satu-satunya alasan mengapa mereka berlomba-lomba meacu
kecepatan maksimal mereka dalam menjalankan kewajibanya sebagai penanda waktu. Implikasi
nyata dari perseteruan mereka adalah sangat kita rasakan, sangat kita nikmati,
ratapi, dan hayati. Kau ingin tau apa buktinya? Hey, jangan bercanda, pasti kau
sehari-hari juga bercengkrama dengan fenomena ini. Lihat apa yang seorang anak
katakan sehabis seharian bermain di depan laptop dengan dunia gamenya? Apa yang
seorang ibu katakan setelah seharian ngerumpi dengan geng antar RTnya atau geng
arisan rutin warga atau yang lebih greget lagi dengan geng-geng pengajian
mereka di majelis ta’lim? Apa yang mereka atau saya sebut saja kau katakan
setelah seharian menatapi smartphonemu mengotak-atik ini itu, menambah ini itu,
memainkan game ini itu, atau hanya sekedar seharian memandangi beranda facebook
menunggu pesan atau komenmu dibales sama doi? Bolak-balik membuka tutup kunci
layar hand phone melihat sisi pojok atas apakah ada gambar amplop atau tidak. belum
cukupkah contoh-contoh di atas? Ok fine saya tambahkan karena saya emang orang
baik. pikirkan saja, cukup pikirkan saja, lihat, apa yang kalian termasuk saya
pikirkan setelah seharian bergelut dengan hobi kita, bermain gitar, membaca,
atau asyiknya membicarakan kejelekan orang lain? Saya bilang cukup pikirkan
saja jangan kau ucapkan.
Saya yakin kau setuju bahwa jawaban dari mereka-mereka yang
telah saya sebutkan di atas adalah sama. Yaa, mereka akan sepontan menjawab “perasaan
waktu itu cepet banget ya, baru aja tadi pagi gue bangun pagi nyalain laptop,
eh sekarang udah malem”. Atau mungkin kau akan menemukan jawaban “ini udah
malem? Yaa ampun, keasyikan main gitar gue lupa ngerjain makalah buat dikirim
malem ini. Mana deadline setengah jam lagi dan makalah harus 10 lembar no
copas. Wailaa, cabut nyawakuuu”. Atau yang lebih parah kau akan tersenyum
melihat jawaban bocah cilik ini dengan polosnya menjawab “mama mama, ini udah
maghrib lho kok mama dari siang ngobrol terus sama tante, ngomongin apa si? Kata
papa kan kalo udah adzan suruh ke mesjid sholat bareng-bareng sama tetangga. “.
Ibu paruh baya itu pun menjawab dengan logat jawa kenthelnya dan suara yang
bersahaja menggelegar bahakan mengalahkan nyaringnya suara adzan, “Hussh,
ssssttt,, diem anak kecil, pengin tau urusan orang tua aja. Sholat kan bisa
nanti, kan waktunya masih ada. Ini mama lagi asyik ngobrol hal penting sama
tante”.
Walaupun berbeda-beda masalah mereka tetap sama. Mereka merasakan
waktu itu berjalan menjadi lebih cepat akhir-akhir ini. Tak usah saya bilang
mereka, kita pun sama merasakan hal yang demikian. Akuilah jangan munafik kau. Saat
kesibukan atau keasyikan kita sedang pada puncaknya, seolah mereka, jarum-jarum
penunjuk waktu, menyadari kelengahan kita dan bekerja lebih cepat. Akupun setuju
dengan pendapat mereka.
Baru saja saya melihat acara pas mantab di TV, dan disitu
bintang tamunya juwita bahar. Dia mengatakan sudah dilamar seseorang dan akan
menikah. Terus apa hubunganya dengan waktu? Jelas ada hubungannya, dia baru
berusia 17 tahun dan sudah sedang memikirkan sebuah rencana untuk membangun
sebuah rumah tangga. Tadi sore saya juga melihat berita tentang eyang subur
yang menampakkan wajahnya di layar televisi untuk pertama kali dan beliau
mengucapkan statement-statement pembelaan. Hubungannya dengan waktu adalah dia
sudah tua. Kemarin saya juga ketemu kucing jantan dewasa di depan pintu
kontrakan saat sedang makan siang. Hubungannya dengan waktu adalah kucing
disebut dewasa jika sudah melewati usia tertentu yang itu adalah hanya beberapa
persen saja dari usia dewasa manusia. Dan satu lagi kawan, hampir tiap hari
anak-anak tetangga kontrakan saya berinteraksi dengan saya. Tidak jarang mereka
main masuk ke kontrakan. Mereka baru berusia 5 tahunan.
Yang ingin saya katakan disini adalah tentang waktu. Tentang
kecurangan aparat penentu waktu atau dalam hal ini jarum-jarum jam itu
melaksanakan tugasnya. Tentang berhasilnya proses pemuaian waktu di pikiran
kita. Lihat, betapa cepatnya juwita bahar sudah memikirkan masalah pernikahan,
sedangkan saya di sini sedang memikirkan masalah makan malam nanti mau di
warteg mana. Betapa cepatnya waktu bergulir hingga eyang subur sudah menjadi
tua dan masih saja semangat memperjuangkan keyakinannya. Lihat, betapa cepatnya
seekor kucing sudah menjadi dewasa padahal kemarin sore dia sedang bermain
bersama ibunya dan masih minum susu dari induknya. Dan lihat betapa cepatnya
waktu bergulir di depan mata kita sehingga generasi-generasi baru sudah
bermunculan seperti anak-anak tetangga kontrakan saya itu. Dan kelak mereka
juga berpikir betapa cepat waktu bergulir sehingga masa-masa kanak-kanak mereka
sudah hilang, berganti dengan masa-masa dewasa yang penuh dengan lika-liku
kehidupan. Betapa cepat waktu itu berhasil menipu kita sehingga kita tidak
melakukan apa-apa di saat waktu semakin kencang berlari menertawai kita.
Jika tidak ada yang bisa disalahkan dari kecurangan para
jarum-jarum jam itu, maka satu-satunya yang bisa disalahkan adalah kita sebagai
manusia yang mengkonsumsi waktu tanpa henti. Pertanyaan terbesar yang ingin
saya tanyakan kepada diri saya sendiri adalah, apa yang telah kau lakukan saat
waktu itu terus bergerak? Apa yang telah kau berikan pada dirimu, orang lain,
lingkungan, dan kepada Tuhan ketika waktu tak henti terus berlari? Salah apa
yang telah kau perbuat sehingga kemudian kau tersadar penuh penyesalan saat
waktu, sekali lagi, tak pernah lelah untuk berpindah? Dan apa yang telah kau
rencanakan untuk mengisi waktu beberapa waktu ke depan yang tentunya kau tahu
bahwa besok waktu itu akan semakin gila berlari di jalan bebas hambatan, ?
jawab jika kau ingin menjawabnya.
Waktu, kita, mereka, dimensi tempat kita berpijak, itu semua
mutlaq milik Alloh, jadi satu-satunya kegiatan yang harus kita laksanakan
adalah berbuat baik kepada Sang Pemilik Segalanya. Menurut saya caranya adalah
dengan melaksanakan kewajiban kita sesuai kodrat kita, dengan tulus ikhlas dan
tanpa keluar dari jalan yang semestinya. Kalau tidak begitu maka kau sudah tahu
jawabanya, suatu hari kau akan menyesal karena menyia-nyiakan waktu dan tidak
berpikir ketika kau menghambur-hamburkanya. Dan saat itu aku, kau, dan seekor
kucing pun tau apa yang sedang terjadi . waktu semakin jauh meninggalkanmu
bersama dengan kesalahanmu. Dunia terlalu jauh untuk kau kejar bahkan hanya
untuk kau berlari di sampingnya. Kau semakin tenggelam, tenggelam, dan hanyut
pada dimensimu sendiri. Jadi sudah jelas kawan, hargai waktumu.
TRANSISI DEMOGRAFI
|
LUKMAN KHAKIM
|
IG/22/12.7226
|

BAB 1
PENDAHULUAN
Transisi demografi adalah
sebuah konsep yang dikembangkan oleh para demografer terdahulu untuk melakukan
pendekatan atau melakukan analisis terhadap fenomena pertumbuhan penduduk yang
memang sangat menarik sekali untuk dikaji. Pertumbuhan penduduk dipengaruhi
oleh beberapa faktor yaitu faktor alami dan faktor dari luar. Faktor alamiah
terjadinya suatu perubahan jumlah penduduk adalah kelahiran (fertilitas), dan kematian
(mortalitas), sedagkan faktor-faktor lain yang mungkin mempengaruhi laju
pertumbuhan penduduk adalah faktor yang berasal dari luar seperti perpindahan
penduduk (mobilitas), pertumbuhan ekonomi, gaya hidup, bencana alam dan
lain-lain. Dikatakan sebuah hal yang menarik untuk dipelajari karena
pertumbuhan penduduk memberikan suatu pola tertentu yaitu dari awal tahun
masehi sampai saat ini. Mungkin itu yang menimbulkan suatu kegelisahan pada
pikiran demografer-demografer pada masa lalu untuk meneliti apakah yang
menyebabkan perubahan karakteristik penduduk dari waktu ke waktu. Transisi
demografi meneliti apakah hal-hal yang mempngaruhi fenomena pertumbuhan penduduk
tersebut.
Yang menarik adalah pola
yang tidak linear pada pertumbuhan jumlah penduduk dunia. Hingga pada akhirnya
Malthus menyimpulkan bahwa pertumbuhan jumlah penduduk itu dianalogikan seperti
deret ukur, sedangkan pertambahan bahan pangan berkembang menurut deret hitung.
Para ahli demografi pada awalnya memproyeksikan bahwa pertumbuhan penduduk akan
terjadi terus-menerus sehingga akan ada waktunya ketika manusia jumlahnya akan
mencapai tigkat puncak sehingga sudah tidak ada ruang untuk bergerak lagi.
Higga pada akhirnya disadari bahwa kesalahan dari pandangan tersebut adalah
mereka tidak memperkirakan adanya perkembangan ekonomi modern yang bisa
menanggulangi hal buruk tersebut terjadi.
Pendekatan trasisi
demografi terus dikembangkan oleh para demografer-demografer pada masa itu.
Beberapa dari mereka yang akan dibahas teorinya pada kesempatan penulisan essay
ini adalah Notestein (1945-1953), Blacker (1947), Coale (1976-1989), Teitelbum
(1975), dan Caldwell (1976). Masing-masing dari mereka melakukan dengan
pendekatan dan sudut pandang berbeda.
BAB 2
PEMBAHASAN
Konsep transisi demografi
pada dasarnya meneliti tentang sebab mengapa hampir setiap negara baik negara
berkembang maupun negara maju sama-sama melewati fase yang hampir sama yaitu:
1. Kelahiran dan kematian tinggi
2. Kelahiran masih tinggi, dan angka
kematian turun
3. Angka kematian dan angka kelahiran
sama-sama turun dan mencapai pada angka yang rendah, dan kemudian stabil.
Walaupu Blacker mengajukan bahwa
tahapan ini dibagi menjadi 5 tahap, tetapi pada dasarnya sama.
Sebelum membahas tentang
teori transisi demografi seperti di
atas, dibahas dahulu tentang sedikit sejarah tentang riwayat
perkembangan jumlah
penduduk di duia dari masa ke masa. Pada awalnya, yaitu pada awal tahun
masehi jumlah penduduk di dunia
diperkirakan sekitar 250 juta penduduk dengan angka pertumbuhan penduduk hanya
sekitar 0,04% per tahun. Kehidupan pada zaman ini masih terbilang sangat
sederhana. Belum tercipta dunia perindustrian dan pola hidup juga masih sangat
sederhana dilihat dari segi kesehatan, pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya.
Angka kelahiran
pada saat itu tinggi dibarengi dengan tingginya angka kematian. Laju pertumbuhan
penduduk yang sangat rendah ini bertahan hingga berabad-abad lamanya. Hingga
terjadi revolusi industri yang terjadi sekitar tahun 1750 yang menyebabkan
lonjakan jumlah peduduk yang cukup signifikan. Jumlah penduduk saat itu
mencapai sekitar angka 790 juta jiwa penduduk.
Pada abad berikutnya dampak dari revolusi industri mulai terasa.
Revolusi industri tentu sangat berhubungan erat dengan kemajuan teknologi dalam
berbagai bidang yang mendukukung terjadinya perbaikan kualitas taraf hidup
manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Eropa melahirkan
inovasi-inovasi baru dalam sejarah hidup manusia. Pada abad 19 ditemukannya
obat-obatan seperti penicilin dan ditemukannya inovasi-inovasi dalam dunia
kesehatan yang secara simultan akan mempengaruhi angka kematian manusia pada
waktu itu. Angka kematian turun drastis tetapi tidak dibarengi dengan turunnya
angka kelahiran atau fertilitas. Akibatnya adalah terjadi lonjakan jumlah
penduduk dunia yang lebih signifikan pada waktu tersebut. Terlebih dengan
berkembangnya sarana transportasi yang awalnya hanya untuk keperluan dagang
beralih fungsi menjadi sarana transportasi untuk melakukan perpindahan penduduk
dan untuk dilakukannya distribusi barang-barang dari suatu penjuru dunia ke
tempat lainya. Dunia semakin maju, semakin terasa sempit dengan dibarengi
dengan jumlah penduduk dunia yang kian membanyak dari waktu ke waktu. Pada
tahun 1900an jumlah penduduk dunia sudah mencapai angka sekitar 1,7 milyar
jiwa. Bukan hanya jumlah penduduk yang meningkat secara terus menerus tetapi
juga laju pertumbuhanya juga terus meningkat. Jadi jika dilihat pertumbuhan
penduduk mengalami kenaikan menyerupai deret ukur bukan deret hitung. Bukan
hanya semakin bertambah, tetapi juga semakin cepat bertambahnya. Dari 1,7
milyar, jumlah penduduk dunia melonjak menjadi 2 milyar pada tahun 1930. Dengan
semakin berkembangya teknologi kesehatan, angka harapan hidup juga semakin
bertambah baik. Itu terbukti dengan meningkatnya jumlah penduduk tua yang masih
hidup dibandingkan dengan waktu sebelum ditemukannya teknologi kesehatan yang
semakin membaik. Jumlah penduduk dunia pada tahun 1950 naik lagi menjadi 2,5
milyar. Tetapi peningkatan mutu pelayanan kesehatan tidak dibarengi dengan
dipikirkannya masalah kelahiran. Jadi angka kelahiran tetap saja tinggi dengan
angka kematian yang semakin turun. Akibat nyata dari hal tersebut adalah jumlah
penduduk yang semakin banyak.
Lonjakan jumlah penduduk
cukup berarti pada tahun 1999 yaitu menjadi
6 milyar. Selang satu tahun saja yaitu pada tahun 2000 jumlah penduduk
sudah bertambah sebesar 55 juta jiwa. Higga saat ini penduduk dunia sudah
sekitar 7 milyar jiwa. Upaya untuk menngotnrol atau menekan angka kelahiran
sudah dilakukan sejak beberapa puluh tahun lalu. Antara lain dengan program KB
yang dilakukan di Indonesia. Bukan hanya di Indonesia program semacam ini juga
dilakukan di berbagai negara lain. Upaya-upaya yang dilakukan antara lain
dengan penggunaan alat kontrasepsi. Upaya lain adalah dengan berubahnya gaya
hidup orang yang semakin berubah ke arah modern, pada gaya hidup ini orang
lebih mementigkan karir ketimbang menikah dan memiliki anak. Sehingga banyak
pemuda-pemudi yang menikah pada usia lumaya tua. Biasanya hal seperti ini terjadi
di negara maju, sedangkan untuk negara berkembang atau negara miskin masih
banyak adat yang membuat mereka memiliki anak banyak. Itu mungkin disebabkan
karena tidak adanya lapangan pekerjaan yang memadai untuk ibu-ibu rumah tangga dan juga karena
adanya paham bahwa jika banyak anak maka semkin banyak kesempatan untuk
menggantikan tenaga kerja orang tuanya. Akibat dari hal-hal ini adalah berhasil
ditekannya angka kelahiran. Hal ini bisa disadari sebagai fenomena transisi
demografi pada tahap kedua.
Objek penelitian para demografer meneliti transisi demografi
sama, yaitu fenomena pertumbuhan penduduk dari masa ke masa. Beberapa
demografer adalah sebagai berikut
1. Notestein (1945-1953)
Notestein berpendapat bahwa walaupun
faktor utama dari pertumbuhan penduduk adalah kelahiran, kematian, dan
perpindahan penduduk, hanya kelahiran dan kematian yang mempengaruhi
pertumbuhan penduduk. Jadi konsep transisi demografi hanya memandang pengaruh
dari faktor alamiah kelahiran dan kematian. Fertilitas yang tinggi diperlukan untuk
mempertahankan keluarga.
Transisi demografi bergerak dari suatu kondisi stabil dengan laju pertumbuhan
penduduk nok ke kondisi stabil lainya, yaitu setelah melalui beberapa tahap.
2. Caldwell (1976)
Caldwell berpendapat bahwa tingginya
kelahiran tidak berpengaruh pada kematian, tidak juga berpegaruh pada adat
istiadat, tetapi semata-mata karea pergeseran keutungan ekonomi. Jadi yang
mempengaruhi transisi demografi adalah karena pergeseran sistem ekonomi yang berlaku,
sebagai contoh karena sistem ekonomi menjadi modern maka keinginan untuk
memiliki anak banyak akan terkurangi dan lebih memilih untuk konsenterasi pada
karir pekerjaan. Hal itu dapat dilihat pada perbedaan sistem keluarga di negara
berkembang dan negara maju. Pada negara berkembang, jumlah anak itu sedikit dan
usia produktif banyak sedangakan pada negara berkembang jumlah anak banyak
dengan pelayanan kesehatan tidak sebaik negara maju. Orang tua
memperoleh keuntunungan ekonomis dari anak-anaknya dan penurunan fertilitas
hanya akan terjadi ketika aliran kekayaan dari anak ke orang tua dibalik
menjadi dari orang tua ke anak.
3. Blacker (1947)
Blacker berpendapat bahwa transisi
demografi terbagi menjadi 5 tahap, yaitu:
a. High stationary
b. Early expanding
c. Late expanding
d. Low stationary
e. Declining
4. Coale (1976-1989)
Pendapat
Coale adalah perubahan spesifik terhadap perilaku reproduktivitas penduduk yang
terjadi pada tranformasi penduduk tradisional menjadi modern.
5. Teitelbum
Dia berpendapat bahwa angka kematian
menurun lebih cepat disaat angka kelahiran masih tetap tinggi. Itu karena angka
kematian lebih berhubungan erat dengan sosial ekonomi.
Berikut dijelaskan
transisi demografi yang dijelaskan oleh Blacker
yang membagi transisi demografi menjadi 5 tahapan. Secara grafik dapat
digambarkan sebagai berikut
1. Tahap 1 High stationary
Pada tahap ini angka kelahiran dan kematian sangat tinggi.
Hal yang menyebabkan adalah karen pola hidup yang masih sederhana, belum
ditemukannya obat-obatan dan alat-alat medis yang canggih. Wabah penyakit tidak
dapat kdikendalikan seperti angka kematian dan kelahiran yang juga tidak
terkendali tiap tahunya. Jadi pertumbuhan penduduk lambat dikarenakan angka
kematian hampir sama dengan angka kelahiran. Contoh dari tahap ini adalah Eropa
pada abad 14.
2. Tahap 2 Early Expanding
Jumlah penduduk naik dengan pesat karena angka kelahiran
masih saja tetap tinggi karena masih ada pandangan bahwa semakin banyak anak
maka akan semakin banyak keuntungan yang didapat. Tingginya angka kelahiran
dibarengi dengan dilaksanakannya revolusi industri yang menemukan obat-obatan
dan alat-alat medis yang sudah lebih canggih sehingga berhasil menekan angka
kematian. Pada awalnya, obat-obatan seperti penicili diciptakan untuk keperluan
perang, tetapi selanjutnya dikonsumsi untuk umum. Dengan ditemukanya
obat-obatan modern, dan pelayanan kesehatan yang lebih baik, maka angka harapan
hidup pun meningkat. Hasilnya, jumlah penduduk dunia naik pesat. Contoh pada
tahap ini adalah India sebelum perang dunia 2, dan Indonesia pada tahun 1980an
angka pertumbuhan sebesar 2,32% per tahun.
3. Tahap 3 Late Expanding
Pada tahap ini angka kelahiran sudah berhasil ditekan dengan
ditemukannya alat kontrasepsi yang berhasil menekan angka kelahiran. Sementara
itu, angka kematian menunjukkan penurunan yang lebih signifikan dikarenakan pelayanan
medis sudah lebih bagus dan sistem ekonomi juga menunjukkan kondisi yang lebih
baik. Dengan demikian gaya hidup manusia juga sedikit berubah menjadi manusia
modern. Industri membaik dan banyak tenaga kerja terserap, sehingga angka
kelahiran berhasil ditekan. Contoh dari tahap ini adalah India sesudah perang
dunia 2.
4. Tahap 4 Low Stationary
Angka kelahiran semakin bisa ditekan hasilnya angka kelahiran
pada tahap ini berada pada angka yang rendah. Begitu juga dengan angka kematian
yang sudah lebih dahulu berhasil ditekan sebelumnya. Selisih antara keduanya tidak
begitu jauh yaitu pada angka yang relativ rendah. Contoh : Australia, Selandia Baru, Amerika pada
tahun 1930.
5. Tahap 5 Declining
Pada tahap ini terjadi kebalikan yaitu angka kematian malah lebih tinggi
daripada angka kelahiran. Hal ini bisa terjadi karena semakin berhasil
ditekannya angka kelahiran dengan alat kontrasepsi ataupun karena gaya hidup
masyarakat terkait memang sudah berubah. Contoh Jerman tahun 1975.
Transisi demografi
sebenarnya menganalisis dan kemudian mengeneralisir gejala-gejala yang terjadi
pada pertumbuhan penduduk masyarakat dunia per wilayah mereka tinggal, walaupu
pada akhirnya juga ditemukan bahwa sebenanya tidak tepat juga teori itu
digeneralisir di detiap wilayah. Ada wilayah atau negara atau suatu peradaban yang
jika dikatakan itu melenceng dari teori yang telah dikemukakan. Pada umumnya
teori transisi demografi menjelaskan perubahan kehidupan masyarakat dari
agraris menjadi industrial. Tetapi pada kenyataanya ada negara yang sudah bisa
menekan angka kelahiran walaupun proses industrialisasi masih dalam proses
awal. Fenomena ini dapat ditemui di negara-negara di Eropa timur yang masih
menjalankan sistem agraris. Kesimpulan yang didapatkan adalah bahwa tidak hanya
proses menuju industrialisasi yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk tetapi
juga kesamaan budaya dan kultur bahasa. Negara-negara di Eropa Timur dekat
sekali dengan negara-negara Eropa yang sudah lebih awal beralih ke industri
sebagai sektor utamanya dan sudah berhasil menekan angka kelahiran.
Faktor lain yang
menyebabkan teori transisi demografi tidak dapat digeneralisir secara global
adalah bahwa pembangunan dan kesejahteraan masing-masing wilayah itu berbeda. Itu
menyebabkan kebudayaan dan proses sosialisasi atau gaya hidup berbeda.
Contohnya saja pada negara berkembang atau negara miskin masih menganut banyak
anak banyak rejeki, dan pada saat yang sama pada negara maju gaya hidup sudah
lebih maju.
Proses transisi demografi
juga tidak menunjukkan kecepatan yang sama antara negara maju dan negara berkembang.
Di inggris proses transisi demografi memerlukan waktu antara 200 tahun,
sedangkan di Indonesia hanya perlu waktu sekitar 30 tahun.
Pada intiya teori
transisi demografi dapat digeneralisir di setiap negara itu tidak benar tetapi
kenyataan bahwa setiap negara melalui tahapan-tahapan transisi demografi itu
benar adanya, tetapi dengan keadaan dan kondisi yang berbeda sesuai adat,
budaya, dan keadaan negara tersebut.
Transisi demografi yang terjadi di Indonesia terjadi sama seperti pada
teori yang disepakati. Hanya saja pada tahap tertentu ada sedikit perbedaan
dalam proses pertumbuhan penduduknya. Mungkin Indonesia juga termasuk yang tadi
disebutkan sebagai Negara dengan proses transisi demografi berbeda, yaitu
Indonesia mengalami penurunan angka kelahiran sebelum Indonesia menjalani
proses industrialisasi. Seperti kita tahu Indonesia adalah Negara agraris jadi
sampai saat ini Indonesia masih menjadi Negara agraris. Penurunan angka
kelahiran Indonesia dilakukan dengan cara menjalankan program KB atau keluarga
berencana. Dalam menjalankan program KB digalakkan juga pemakaian alat
kontrasepsi sehingga angka kelahiran bisa ditekan. Indonesia adalah Negara
dengan jumlah penduduk terbesar ke empat di dunia. Dengan luas wilayah yang
seperti ini, semakin terlihat jelas bahwa Indonesia adalah masih menjadi Negara
berkembang. Biasanya cirri-ciri Negara berkembang adalah memiliki penduduk yang
masih mempunyai anak banyak. Seperti kita tahu, masyarakat jawa pada beberapa
generasi lalu adalah masyarakat dengan jumlah anak yang bisa dibilang banyak.
Jumlah anak 10 atau lebih itu menjadi lumrah. Itu menunjukkan bahwa masyarakat
Indonesia masih belum mempunyai kebudayaan atau gaya hidup sebagai masyarakat
modern. Jadi menurut saya Indonesia masih menjalani proses menuju kondisi yang
stabil sesuai alur yang disepakati di teori transisi domografi. Semakin
berkembangnya jaman kebiasaan memiliki anak banyak juga sudah mulai
ditinggalkan, proses industrialisasi sudah semakin membaik, dan angka kelahiran
sudah cukup berhasil ditekan. Tidak khayal, beberapa waktu yang akan datang
Indonesia akan mencapai keadaan yang stabil dan menyelesaikan transisi
demografi.
Beberapa hal yang menghalangi Indonesia dalam menyelesaikan trasnsisi
demografinya adalah sebagai berikut:
1.
Tidak meratanya pembangunan di
Indonesia sehingga jurang pemisah semakin jelas. Seperti kita tahu, di
Indonesia masih ada masyarakat primitive dengan gaya hidup yang masih sangat
sederhana, sedangakan di sisi lain pembangunan dan proses industrialisasi terus
berkembang.
2.
Pendidikan Indonesia masih perlu
ditngkatkan dan diratakan. Salah satu faktor penentu pertumbuhan penduduk
adalah pendidikan wanita. Pendidikan masyarakat yang tinggi juga akan
merangsang pemikiran masyarakat untuk mempunyai gaya hidup modern.
3.
Indonesia adalah Negara agraris.
Mungkin ini salah satu penyebab sulitnya Indonesia berubah menjadi Negara
industri karena sebagian masyarakat Indonesia adalah petani.
Mengenai Saya
- Lukman Khakim
- jakarta, jakarta, Indonesia
- saya bukan tukang parkir. sumpah bang saya bukan tukang parkir, sehingga saya tidak pandai memparkir hati seseorang dan meletakannya di tempat yang benar.




